Rabu, 30 Mei 2012

SEJARAH BUDDHISME ZEN


A.    
Sejarah Bhudisme Zen
India adalah tempat kelahiran agama Budha namun seiring perubahan zaman Budhisme yang ada di India mulai hilang, karena desakan Hinduisme. Akan tetapi sebelum diserap kembali oleh Hinduisme, Budhisme memisahkan pengarunya, Mahayana adalah salah satu Madzhab buda yang berhasil dibawa ke Cina pada masa yang awal sekali, walaupun secara tradisional diceritakan bahwa agama Budha mulai dikenal di Cina pada masa pemerintahan Kaisar Ming (58-75M), yang melihat Budha dalam sebuah Mimpi, lalu mengirim utusannya ke India untuk menyelidiki ajaran tersebut. Para utusannya kembali dengan sejumlah Kitab dan benda-benda suci, juga dua orang biksu untuk menerjemahkan kitab-kitab sutra.Pada abad-abad berikutnya barulah berkembang dengan luar biasa, meski perkembangannya yang pesat itu disokong oleh para kaisar, ada juga periode-periode tertentu ketika agama Budha ditindas dan banyak wihara, kitab dan karya seni dihancurkan.[1]
Di Tiongkok (China) madzhab Mahayana berbenturan dengan Taoism dari Lao Tze (604-531 SM) dan dengan Cofucianism dari Kong Fu Tze (551-479) dan di Jepang berbenturan dengan Shintoism, dan perbenturan itu menimbulkan saling-pengaruh di dalam sejarah perkembangan aliran-aliran Mahayana di Tiongkok dan di Jepang.[2]
Mahayana pertama kali diperkenalkan ke Jepang lewat korea, ketika raja Kudara mengirimkan Kitab-kitab dan Arca-arca Budhis kepada Kaisar Jepang. Pada mulanya agama baru ini ditentang, akan tetapi lambat laun diterima.Sejak tahun 552 Masehi Budhisme telah masuk Jepang dari Korea dan Tiongkok.Ajaran-ajaran Budhisme dapat tersiar di jepang dengan cepat setelah timbul anggapan bahwa dewa-dewa Budhisme dapat dipersamakan dengan dewa-dewa Shintoisme. Sebenarnya ada dua pendirian dalam Budhisme Jepang ini yaitu di satu  pihak ingin mencapai kelepasan dengan usaha sendiri. Pendirian inilah yang disebut Zen Budhisme. Sedang dipihak lain ingin melepaskan diri atas dasar kepercayaan bahwa kelepasan itu dapat ditolong oleh yang maha gaib (dewa-dewa). Pengikut Zen berusaha mencapai ilham tertinggi dengan kontemplasi (latihan-latihan rohaniah yang mendalam).Untuk itu orang yang berkontemplasi harus dapat mendisiplinir diri serta memiliki ketenangan batin setinggi-tingginya.[3]
Madzhab Mahayana itu terpecah kepada berbagai aliran disebabkan perbedaan tinjauan tentang segi-segi persoalan mengenai keyakinan, beserta persoalan tentang cara mencapai watak Budha.

B.      Budisme Zen
Zen adalah salah satu aliran Buddha Mahayana.Kata Zen berasal dari bahasa Jepang.Sedangkan bahasa Sansekerta nya, Dhyana.Di Cina dikenal sebagai Chan yang berarti meditasi.Aliran Zen memberikan fokus pada meditasi untuk mencapai penerangan atau kesempurnaan.[4]
Aliran Zen dianggap bermula dari Bodhidharma.Ia berasal dari India dan meninggalkan negaranya menuju ke tiongkok, lalu berdiam di kanton pada tahun 520 M Bodhidarma itulah yang menjadi Imam pertama di tiongkok. Aliran Zen asli kemudian diteruskan sampai ke generasi ke-6 Hui Neng.Setelah itu aliran Zen berpencar di Tiongkok, dan Jepang.
Zen diklaim sebagai Transmini Jiwa Ajaran Buddha yaitu transmisi yang paling penting dan merupakan jenis transmisi yang dimaksudkan adalah “transmisi khusus diluar kitab suci” pada syair. Meskipun hanya kitab suci yang disebutkan dalam syair tersebut, transmisi dimaksud mesti dimengerti berada diluar transmisi ordinasi dan doktriner juga.
Menurut tradisi buddhis sang Buddha pernah suatu waktu duduk dikelilingi sekumpulan besar siswa-siswaNya. Beratus-ratus Bodhisattva dan Arahat, Bikshu-biksuni, serta Upasaka-upasika hadir bersama-sama dengan berbagai kelompok makhluk-makhluk surgawi.Semuanya diam, menunggu Sang Buddha bersabda. Tapi pada kesempatan ini, bukannya mengeluarkan kata-kata, ditengah keheningan Sang Bhagava hanya mengangkat sekuntum bunga berwarna emas… Hanya Mahakasyapaa, satu diantara siswa-siswa tertua—yang termahsyur karena kesederhanaanya—mengerti makna perbuatan Sang Buddha, dan ia tersenyum. Sang Buddha kemudian bersabda, “Aku yang memiliki Mata dari Dharma yang luar biasa, yakni Nirvana, Kesadaran, misteri realita dan non-realita, serta pintu gerbang kebenaran transenden. Aku sekarang menyerahkannya kepada Mahakasyapa.” Inilah yang dimaksud dengan transmisi.
Mahakasyapa mentransmisikan jiwa Dharma kepada Ananda, yang telah menjadi siswa langsung Sang Buddha selama dua puluh tahun kehidupannya di dunia.Ananda meneruskannya kepada Sanakavasa, muridnya dan seterusnya. Dari mahakasyapa di abad ke-5 SM hingga kepada Bodhidharma di abad ke-6 M, transmisi ini dilanjutkan dalam satu garis guru-guru spiritual, sebagian kurang dikenal dan sebagian lagi merupakan nama-nama paling top dalam sejarah agama Buddha di India. Daftar nama-nama guru ini, yang secara tradisional dikenal sebanyak Dua Puluh Tujuh – Dua Puluh Delapan dengan Bodhidharma—Sesepuh Zen dari India adalah sebagai berikut :

1. Mahakasyapa
2. Ananda
3. Sanakavasa
4. Upagupta
5. Dhritaka
6. Michchaka
7. Vasumitra
8. Buddhanandi
9. Buddhamitra
10. Parshva
11. Punyayashas
12. Ashvaghosha
13. Kapimala
14. Nagarjuna
15. Kanadeva
16. Rahulata
17. Sanghanandi
18. Gayasata
19. Kumarata
20. Jayata
21. Vasubandhu
22. Monorhita
23. Haklena
24. Aryasimha
25. Basiasita
26. Punyamitra
27. Prajnatara
28. Bodhidarma

Studi dafta ini mengungkapkan hubungan yang sangat dekat antara Zen dan apa yang dikenal sebagai tradisi pusat Agama Buddha India. Dialah Bodhidharma yang termahsyur, sesepuh kedua puluh delapan dari India—yang dalam lukisan kuno digambarkan sebagai seorang yang menyebrangi lautan dengan daun bambu—yang membawa Zen ke Cina, dengan sendirinya menjadi sesepuh pertama dari Cina. Apa yang ia bawa ke Cina bukanlah Zen dalam bentuk seperti yang kita kenal saat ini bersama dengan doktrin-doktinnya, kitab suci, dan organisasi viharanya, melainkan semangat atau jiwa yang ia turunkan kepada muridnya Hui K`o, yang kemudian menurunkannya pada muridnya lagi hingga sesepuh  yang ke-6. Master-master ini dikenal sebagai Enam Sesepuh Aliran Zen dari Cina, Yakni :
1.         Bodhidharma (lahir sekitar 440 - meninggal sekitar 528)
2.         Hui K`o (lahir 487 - meninggal 593)
3.         Jianzhi SengTs`an (meninggal 606)
4.         Dayi Tao Hsin(lahir 580 - meninggal 651)
5.         Hung Jen (lahir 601 - meninggal 674)
6.         Hui Neng / Wei Lang(lahir 638 - meninggal 713)

            Karena kejeniusan Hui Neng, ia mengajarkan kembali kepada 43 orang. Sesudah itu banyak sekali garis transmisi, namun ada dua diantaranya yang sangat berperan hingga sekarang.Kedua garis keturunan ini diwakili oleh aliran Sotodan aliran Rinzai.[5]
Aliran Chan / Zen itu bersikap agak bebas terhadap mempelajari berbagai Mahayana-Sutras, tidak hendak mengikatkan diri kepada Sutras tertentu.Begitupula terhadap berbagai aliran filsafat dan theogoni didalam madzhab Mahayana.Bahkan tidak hendak memperbincangkannya secara serius.Aliran ini lebih mengutamakan pendekatan secara kerohanian (intuitif) untuk mencapai kesadaran tertinggi.
Sifat kepribadian pada aliran Zen itu amat kuat hingga kurang menaruh hormat terhadap patung-patung pujaan.Dengan begitu aliran ini dapat dikatakan bersifat iconoclastic, yakni menantang pemujaan patung-patung berhala itu, karena pujaan-pujaan lahiriah itu tidak membawa kepada tujuan tertinggi.
Titik berat ajaran ini lebih mengutamakan disiplin, yakni : ketaatan dan kidmat yang sepenuh-penuhnya kepada sang guru, Cuma sang guru saja resmi dan pasti dapat menuntun seseorang murid kepada pencerahan dan kebenaran, guna mencapai kepribadian-Budha. Karena aliran ini berkeyakinan bahwa kepribadian Budha itu hidup membenam dalam diri manusia, dan melalui renungan di dalam Samadhi, maka kepribadian-Budha itu dapat dilihat. Samadi yang dilakukan terbagi menjadi dua yaitu[6] :

  1. Tathagatha-Meditation, yaitu cara Samadhi dari Buddha Gautama, mempergunakan kodrat-kodrat renungan.
  2. Patriarchal-Meditation, yaitu cara Samadhi yang diajarkan Patriarch Bodhidharma, yaitu meniadakan pikiran dan memusatkan kesadaran rohani bagi mencapai kepribadian-Budha.

Menurut aliran ini, bukanlah dengan kepercayaan yang dapat membawa manusia identik dengan Budha, melainkan dengan tafakkur yang dalam.Aliran ini berfaham Pantheistis (kesatuan dewa dengan alam semesta).Manusia dapat menjadi identik (sama) dengan Budha bilamana ia melakukan Meditasi yang dalam berdasarkan intuisi. Meditasi demikian kemudian dipengaruhi oleh Taoisme.[7]
Meditasi adalah latihan yang diterima secar universal oleh semua filsuf, orang suci, dan petapa India dan Budha tidak memiliki alasan untuk menolaknya.Sebenarnya praktik meditasi merupakan salah satu ciri kebudayaan moral di Timur.[8]

C.      Aliran-aliran
Menurut Koesbyanto, dalam perkembangannya, Zen di Jepang terbagi dalam aliran Soto Zen dan Rinzai Zen. Aliran Soto mengembangkan ajaran pencerahan yang hening.Ciri aliran ini adalah ketenangan, menekankan kerja dalam keheningan serta 'kepatuhan'.Metode yang dilakukan untuk mencapai ketenangan adalah melalui Za-zen, yaitu meditasi dalam posisi duduk bersila.
Aliran Rinzai berusaha mencapai penerangan dengan menggunakan penerangan cara Koan dan Mondo. Koan dan Mondo merupakan usaha untuk mencapai penerangan secara aktif.Aliran ini sifatnya lebih dinamis dan aktif dibanding aliran Zen.[9]Koan adalah suatu problem semacam teka-teki, kecuali untuk pikiran yang sadar koan biasanya terdiri dari satu kata atau frasa tanpa arti, atau sebyah pernyataan yang tampaknya nonsense dari sudut pandang umum.Namun koan bertindak sejenis cantelan yang dengan itu pikiran dapat terkait sendiri sejenis cantelan yang dengan itu pikiran dapat terkait sendiri sehingga dapat menyisihkan pemikiran-pemukiran yang ngawur dan pertimbangan-pertimbangan intelektual. Contoh-contoh koan yang diberikan kepada para pemula adalah Mu, yang secara literal berarti “tidak ada apa-apa”, Sekishu, yang berarti “suara satu tangan”, soku shin souk butsu, artinya “satu pikiran, satu budha” Honrai-nomemmoku “bagaimana wujud aslimu sebelum ayah dan ibumu memperanakkan kamu?” dan Nanimono ka immoni kitaru?, yang berarti “darimana Anda datang?”[10]


KESIMPULAN

Dalam perkembangan sejarah Budha Mahayana terjadi perpecahan aliran secara besar-besaran di berbagai daerah seperti di cina, korea bahkan jepang turut menjadi saksi sejarah bahwa Mahayana memiliki banyak sekte atau aliran-alirannya. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan dalam mengartikan Budha itu sendiri (hasil pemahaman/pola piker yang berbeda) pada setiap orang ditambah dengan asimilasi dengan kepercayaan-kepercayaan local seperti Kondusianisme, Taoisme dan Shintoisme.Namun demikian Budha tetap diterima dan menjadi agama besar dan memberikan dampak yang luar biasa pada penganutnya terutama pada sekte Zen Budhisme.
Zen Budhisme disinyalir lahir ketika Bodhidarma mengajarkan ajaran Budha Mahayana yang dipelajarinya dari china dan dibawanya ke jepang pada tahun 520 M. sekte Zen ini memusatkan pada titik meditasi dimana seseorang dapat mencapai kebenaran tertinggi dalam kehidupannya.
Berbicara tentang sejarah pastilah tidak akan pernah habis karena sejarah akan tetap ada bahkan berkembang ketika peradaban manusia itu tetap ada. Begitu pula dengan sejarah Zen Budhisme yang kaya akan sejarahnya.


DAFTAR PUSTAKA

Lane Suzuki. Beatrice ,Agama Budha Mahayana, Karaniya, 2009.
Sou`yb. Joesoef, Agama-agama Besar di Dunia, Jakarta : Al Husna Zikra, 1996.
Arifin. HM, Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, Jakarta : Golden Trayon Press, 1986.
Sangharakshuta, Y.A Maha Sthavira. ZEN : Inti Sari Ajaran, Yayasan Buddhis Karaniya : 1991.
www.wikipedia.com di update pada 14 Maret 2012
http://jurnalmahasiswa.filsafat.ugm.ac.id/ di update pada 14 Maret 2012


[1] Beatrice Lane Suzuki. Agama Budha Mahayana (Karaniya : 2009). Hal. 89-90

[2] Joesoef Sou`yb, Agama-agama Besar di Dunia, (Al Husna Zikra : 1996) hal. 109-110

[3] HM. Arifin.Menguak Misteri Ajaran Agama-agama, (Jakarta : 1986) hal. 116


[5]Y.A Maha Sthavira Sangharakshuta, ZEN : Inti Sari Ajaran (Yayasan Buddhis Karaniya : 1991) hal. 32-37

[6]Joesoef Sou`yb, Op.cit.hal. 121-124

[7] HM. Arifin, Op.cit .hal. 115-116

[8] Beatrice Lane Suzuki. Op.cit. Hal. 12

[9]http://jurnalmahasiswa.filsafat.ugm.ac.id/ di update pada 14 Maret 2012

[10]Beatrice Lane Suzuki. Op.cit. Hal. 99
»»  READMORE...

BUDHISME ZEN


Pengertian Zen


Zen merupakan salah satu dari ajaran Budhisme yang berasal dari
India, yang menyebar melalaui Cina dan Korea. Banyak orang yang sulit
mengartikan makna zen sesungguhnya. Zen yang diambil dari aksara
Cina berarti "menunjukkan kesederhanaan". Zen adalah ajaran yang
sangat jelas dan singkat. Ada juga yang berpendapat bahwa zen merupakan
filosofi, dan bukanlah sebuah agama.


Menurut Suzuki, zen bukanlah filosofi karena
pemikiran zen bukanlah berdasarkan pada logika dan analisis. Zen tidak
pernah mengajarkan untuk berpikir secara intelektual dan menganalisis.
Pemikiran yang dihasilkan oleh seorang ahli zen selalu diajarkan secara
turun - temurun kepada muridnya demikian juga seterusnya. Jika menyangkut
bagaimana cara Zen menyebarkan ajarannya, yaitu sama dengan yang
dilakukan Sidharta. Hal ini didukung oleh pernyataan, yang menyebutkan
bahwa ajaran dari Budha sendiri diturunkan kepada murid – muridnya secara
langsung dan turun – temurun.


pengajaran Bodhidharma
tentang zen adalah perbuatan baik saja tidak cukup tetapi melalui
perbuatan baik akan mendorong kemurnian moral dimana menjadi suatu
syarat yang mutlak bagi pencerahan.


Zen memiliki tiga arti yang berbeda
namun berkaitan. Chrismas humpeyrs dalam key kit, mengatakan bahwa:


Pertama, zen berarti meditasi.
Zen
adalah istilah Jepang mengungkapkan Bahasa cina Chan, yang bila
ditelusuri berasal dari Bahasa Sanskerta Dhyana. Ini adalah arti yang
paling umum dari istilah tersebut. Kedua, dalam arti khusus zen adalah
nama dari kekuatan absolut atau realitas tinggi yang tidak dapat disebutkan
dengan kata – kata. Ketiga, dalam arti yang lebih khusus zen adalah
pengalaman mistis akan keabsolutan kekuatan tersebut, suatu kesadaran, tiba –
tiba dan diluar batasan. Pengalaman mistis ini biasanya disebut kesadaran atau
wu
dalam Bahasa Cina dan satori dalam Bahasa Jepang[1].


Ketiga arti zen tersebut saling
berkaitan. Meditasi, arti umum adalah cara utama untuk mendapatkan pengalaman
langsung dengan realitas tertinggi, dan mungkin orang yang melaksanakan
meditasi akan mengalami pemahaman realistas kosmis ini dalam situasi yang penuh
inspirasi saat mengalami kesadaran spiritual.


Zen adalah
disiplin dalam pencerahan. Tujuan dari pelatihan zen ini adalah membuat
kita menyadari apa sesungguhnya zen dalam pengalaman kita sehari – hari
dan apa yang tidak dapat kita peroleh dari luar. Zen adalah bentuk
Budhisme
sebagai penyebaran hati atau pikiran Budha. Anesaki menyatakan bahwa
pada awalnya meditasi merupakan salah satu dari tiga bagaian latihan penganut
Budha. Ketiga latihan tersebut yaitu berupa latihan kebatinan, disiplin moral
dan kebijaksanaan.


Selain itu jika menyangkut apa yang ada
didalam zen, bahwa pengalaman pribadi adalah segalanya dalam zen. Karena
untuk mendapatkan pengertian paling mendasar tentang sesuatu , maka harus
dialami sendiri. Pengalaman merupakan hal yang mendasar dalam Zen. Pengalaman
merupakan jawaban dari semua teka-teki kehidupan. seperti halnya dalam
menjalani hidup, seseorang akan mengerti dengan kehidupan apabila ia telah
menjalaninya, dan selama menjalani kehidupan tersebut akan begitu banyak
pembelajaran yang di dapat.


Pendekatan zen terhadap realitas
tidak sering dengan pendekatan ilmiah yakni menghindarkan penalaran logis,
karena penalaran logis mengakibatkan kerangka pemikiran hidup mendua artinya
suatu pemikiran yang selalu bertentangan antara subjek dengan objek atau
berorientasi pada adanya dua prinsip kehidupan yang saling bertentangan.


Nilai ajaran zen digunakan oleh
orang Jepang sebagai konsep pemahaman terhadap alam dan isinya, yakni tidak
terlepas dari kewajaran atau bersifat alami antara lain ; (1) kesederhanaan,
(2) ketidak-sempurnaan, dan (3) ketidak-abadian. Nilai nilai tersebut
terekspresi dalam konsep dasar pemahaman estetika wabi - sabi. Bagi
orang jepang ajaran zen Budhisme diekspresikan melalui konsep estetika
wabi
- sabi yang digunakan sebagai acuan dalam berpedoman, menatur dan
juga sebagai pengendali dalam mencipta maupun memahami suatu karya seni. Makna
dari wabi - sabi itu sendiri adalah kepasrahan (seijaku) dan
ketulusan dalam menghadapi pergantian waktu, sehingga rasa ketulusan dan
kepasrahan tersebut bagi orang Jepang diekspresikan ke dalam karya seninya
dengan melukiskan situasi keadaan hening, tenang dan diam.


Sehingga dapat dikatakan Zen Buddhisme
adalah sebuah aliran yang menekankan pentingnya meditasi dan mengkhususkan diri
dalam hal itu. Zen yang mewakili puncak spiritualitas dalam agama Buddha adalah
berintikan tentang transimi jiwa ajaran Buddha yang bersifat istimewa.[2]

2.      Sejarah aliran Zen


Jika kita pelajari sejarah agama Budha
dengan perhatian utama terhadap segi ini, hal yang lain segera menarik
perhatian kita adalah Agama-agama itu terpecah. Agama-agama selalu terpecah
belah. Dalam tradisi kita, agama yahudi kuno terpecah menjadi agama Israel dan
agama Judah, agama Kristen terpecah menjadi Gereja Timur dan Gereja Barat. Hal
yang sama juga terjadi pada agama Budha[3].
Agama Budha terpecah kedalam dua mazhab besar, yaitu Hinayana (perahu kecil)
dan Mahayana (perahu besar), kedua aliran tersebut memiliki arti yang berbeda.
Aliran Hinayana menyatakan bahwa dirinya adalah Jalan para sesepuh, dan pada
dasarnya memandang manusia sebagai pribadi, yang persamaan haknya tidak
bergantung kepada penyelamatan orang lain, sedangkan aliran Mahayana menyatakan
dirinya sebagai pemelihara semangat Budha yang asli, berdiri lurus pada garis
Ilhamnya, dan berpendirian sebaliknya, oleh karena kehidupan itu satu, nasib
seseorang berkaitan dengan nasib manusia seluruhnya. Kaum Mahayan bersifat
liberal dalam segala hal. berdasarkan sejarah simgkat diatas, aliran Theravada
bersatu dalam suatu trdisi tunggal yang utuh. Sebaliknya, Mahayana
terus-menerus pecah. Hal ini disebabkan oleh luasnya daerah penyebarannya,  perpecahan itu juga mungkin disebabkan oleh
sikap liberal agama tersebut terhadap berbagai perbedaan dalam lingkungannya.
Mazhab Mahayana ini berkembang menjadi tujuh aliran terbesar, yaitu: aliran
San-lun, aliran Wei-shih, aliran Tien-tai, aliran Hua-yen, aliran Chan, aliran
Ching-tu, dan aliran Cheng-yen[4]. Dan dalam buku Huston Smith
aliran perahu besar terpecah  dalam lima
paham. Yang satu menekankan iman, yang lainnya mengutamakan studi, yang
berikutnya menyandarkan diri pada rumus-rumus yang jitu, sedangkan yang keempat
mempunyai kecendrungan setengah poitik. Kita akan melewati keempat paham ini
dan akan menelaah aliran intuitif Mahayana yang terdapat dalam bentuknya paling
hidup dalam agama Budha aliran Zen di Jepang. Kata Zen adalah logat Jepang dari
perkataan Cina Cha’an, yang merupakan terjemahaan lebih lanjut dari perkataan sansekerta
dhayana yang berarti meditasi
(semadi) yang menghasilkan wawasan yang mendalam.


Seperti penganut
Mahayana lainnya, pengikut aliran zen Budhisme ini mengatakan bahwa, paham
mereka bersumber langsung dari Gautama sendiri. Ajaran beliau yang tercantum
dalam kitab Hukum  agama berbahasa Pali
adalah ajaran yang di ikuti banyak orang. Namun para pengikut Budha yang
mempunyai pandangan yang lebih luas, memperoleh dari gurunya sudut pandang  yang lebih tinggi, contoh yang paling tua
dari hal ini di temukan dalam “ Khotbah Sekuntum Bunga” Sang Budha. Sewaktu
berdiri di puncak sebuah bukit yang dikelilingi oleh para muridnya, pada
kesempatan itu Sang Budha tidak menggunakan kata-kata. Beliau hanya memegang
tinggi-tinggi sekuntum  bunga teratai
keemasan. Tidak seorangpun yang memahami 
makna gerakan yang gamblang itu kecuali Mahakasyapa, yang dengan senyum kecilnnya menunjukan bahwa ia
memahami butir ajaran tersebut.[5]
Oleh karena itu Budha pada masa hidupnya, menurut aliran chan tidak memberikan
dan membukakan ilmu tertinggi itu kepada siapapun  juga kecuali ia di angkat sebagai pengganti
Budha. Menurut silsilah didalam aliran Chan Mahakasyapa merupakan First Patriach (imam pertama), seorang
murid yang yang di pandang Sang Budha Gautama sanggup memahamkan simbol yang
dipakai oleh beliau. Aliran Zen ini merupakan
pecahan dari aliran Mahayana. , yang memiliki arti perahu besar, maksud dari perahu
besar adalah Aliran Chan di Tiongkok itu dikenal di India dengan aliran Dhyana
dan di jepang dikenal dengan aliran Zen. Dhyana itu bermakna: meditasi (
Samadhi ). Chan dan Zen itu prubahan bunyi dari Dhyana, menurut dialek Tiongkok
dan dialek Jepang.


Ajaran zen pertama kali dibawa ke Cina
pada awal abad ke-6, oleh seorang pendeta India yang bernama Bodhidharma
(470-543). Bodhidharma adalah seorang pendeta yang mengajarkan Buddhisme lewat
metode Meditasi. Sehingga, Bodhidharma dianggap sebagai perintis ajaran Zen.
Banyak sekali cerita yang muncul mengenai Bodhidharma, salah satunya adalah
ketika Bodhidharma mencabut kelopak matanya lalu membuangnya karena merasa
kelopak mata itu selalu membuatnya tertidur ketika Meditasi Kelopak mata
tersebut, kemudian berubah menjadi pohon teh.


 Bodhidharma datang ke
Tiongkok pada masa dinasti Liang (502-557M), beliau mula-mula sampai di
Nanking. Sebenarnya apa yang diajarkan oleh Bodhidharma tidak menitik beratkan
teori-teori, yang penting adalah pengertian dan intuisi dari seorang siswa yang
timbul dari dalam batinnya sendiri di dalam usaha penghayatan terhadap Buddha
Dharma di samping adanya ketekunan di dalam meditasi dengan banyaknya cerita
mengenai kehebatan pendeta ini, maka banyak orang yang ingin berguru padanya.
Hanya saja Bodhidharma hanya mau menerima murid yang bersungguh-sungguh ingin
mendalami ajaran dan mengikuti jejak sang Budha. Bodhidharma menurunkan
ajarannya Dhyana kepada muridnya, Hui Khe yang menjkadi sespuh kedua aliran
Cha’n di Cina. Demikian seterusnya, hingga dikenal enam sesepuh yaitu:

  1. Bodhidharma
  2. Hui Khe
  3. Shen Chie
  4. Tao Sin
  5. Hung Jen
  6. Hui Neng


 Setiap agama yang telah mengembangkan bahasa yang canggih
sampai taraf tertentu mengakui bahwa kata-kata dan akal manusia tidak dapat
mencapai kenyataan yang sesungguhnya., jika bukan merusak kenyataan itu
sendiri. Kekhususannya terletak pada kenyataan bahwa aliran ini amat menyadari
keterbatasan bahasa dan akal manusia, sehingga aliran ini mencurahkan perhatian
pokoknya untuk mencari cara mengatasi keterbatasan bahasa dan akal tersebut.
Hubungan Zen dengan akal ada dua: yaitu pertama, logika dan penjelasan Zen
hanya dapat dimengerti dari sudut tinjauan pengalaman yang secara mendasar
berbeda dari pengalaman kita biasa. Dan yang kedua, para guru besar Zen
bertekad kuat agar para siswanya benar-benar memperoleh pengalaman tersebut
secara langsung. Dan bukannya digantikan oleh kata-kata.


Ada
tiga (3) jalan yang biasa ditempuh dalam latihan Zen, yaitu 'Zazen' yang
berarti meditasi duduk, yaitu sikap merenung yang mendalam dengan cara diam
berjam-jam dan bahkan berhari-hari. Sikap mana dilanjutkan dengan 'Koan'
yang berarti konsentrasi akan suatu masalah tertentu, suatu masalah yang sulit
yang sebenarnya tidak bisa dijawab, tetapi bisa direnungkan. Sikap mana
kemudian dilanjutkan dengan 'Sanzen', yaitu bimbingan mengenai soal-soal
meditasi. Bila ketiga jalan ini dapat dijalankan dengan baik, seseorang akan
memasuki keadaan pencerahan 'Satori', yaitu suatu situasi santai yang
baru sekali ini dirasakan, satori adalah suatu pengalaman intuisi,
pengalaman
mistik bahwa ia tidak lagi berpribadi (an-atta/an-atman).


"Cara terbaik
untuk merasakan Zen yang benar dan mencapai satori adalah dengan meletakkan
jasmani dalam keadaan keseimbangan sempurna, sehingga keseimbangannya yang
teratur menghilangkan keberadaannya dari batin, seperti gigi tidak akan
diperhatikan bila sehat dan seorang teman yang benar-benar berkorban tidak
pernah memperhatikan pengorbanannya. Untuk mencapai keadaan yang seimbang ini,
kita ikuti aturan hidup fisik tertentu: pertama-tama buatlah postur yang benar,
kemudian aturlah nafas dan akhirnya tenangkan batin."


Aliran Zen itu bersikap agak bebas terhadap mempelajari
berbagai Mahayana-sutras, tidak hendak mengikatkan diri kepada sutras tertentu.
Begitupula terhadap aliran filsafat didalam mazhab Mahayana. Bahkan tidak
hendak memperbincangkan secara serius. Aliran Zen itu lebih mengutamakan
pendekatan secara intuitif [6]
bagi mencapai kesadaran tertinggi.


Titik berat ajarannya lebih mengutamakan disiplin, yakni
ketaatan dan khidmat yang sepenuhpenuhnya kepada sang guru, Cuma sang guru saja
secara resmi dan pasti dapat menuntun seseorang murid kepada pencerahan dan
kebenaran, guna mencapai kepribadian-Budha. Aliran Zen berpendirian bahwa
kepribadian-Budha itu hidup membenam dalam diri manusia, dan melalui renungan
di dalam semadi, maka kepribadian Budha itu dapat dilihat.


Isi kepribadian-Budha itu ialah kekosongan ( sunyata),
yakni, kosong dari setiap ciri-ciri khusus. Alam lahir dengan seluruh ciri-ciri
khusus itu Cuma tipuan-khayal (maya) belaka. Jalan satu-satunya bagi mendekaati
kebenaran terakhir itu ialah melalui samadhi, yang terbagi dalam dua macam:


(1).Tathagatha-Meditation, yaitu
cara samadhi dari Budha Gautama, mempergunakan kodrat-kodrat renungan.


(2.) Patriarchal-Meditation, yaitu
cara samadhi yang diajarkan Patriach Bodhidarma, meniadakan pemikiran dan
memusatkan kesadaran rohani bagi mencapai kepribadian-Budha.




3.     
Aliran-aliran budhisme


Seiring dengan berjalannya waktu aliran Zen Budhisme
inipun melahirkan beberapa aliran Ada beberapa
sekte/aliran Cha’n/Zen yang berkembang menurut metode yang berbeda atau keadaan
setempat. Diantaranya sebagai berikut:

  1. Aliran Lin Chi, dikembangkan oleh
    Master Lin Chi (kira-kira 850 M)
  2. Aliran Chau Tung, dikembangkan oleh
    Master Tung San Liang Chie (807-869) dan Chau San (840-901)
  3. Aliran Kuei Yang, dikembangkan oleh
    Kuei San (771-853) dan Yang San (807-883)
  4. Aliran Yun Men, dikembangkan oleh
    Yun Men (862-853)
  5. Aliran Fa Yen, dikembangkan oleh Fa
    Yen (885-958)


Zen kemudian berpecah menjadi 5 aliran, dan di kemudian, hari kelima aliran ini dilebur
menjadi dua aliran, yakni Tsao Tung (Soto) dan Lin Chi (Rinzai). Karena itu
sampai sekarang yang kita kenal hanyalah dua aliran Zen, yaitu Soto dan Rinzai yang pada abad ke-XII bermigrasi dari China ke Jepang. Aliran Soto menekankan
pencapaian pencerahan melalui meditasi tenang pengosongan pikiran
(kontemplasi), sedangkan aliran Rinzai menekankan pencapaian pencerahan melalui
meditasi yang diarahkan kepada aliran tertentu.
 


Datar Pustaka


Joesoef
Sou’yb.Agama-agama Besar di Dunia.Jakarta.Pt
Al Husna Zikra.1991


Huston
Smith.Agama-agama Manusia.jakarta.Yayasan
Obor Indonesia.2001

Sekkei Harada.
Hakikat
Zen.Jakarta.PT.Gramedia Pustaka Utama.2003

Albert Low.
Zen
and The Sutra.Jogjakarta.Ar-ruzz Media.2000
 
[1] Sekkei
Harada.Hakikat Zen. Jakarta.Gramedia
Pustaka Utama.2003

 
[2] Albert
Low.Zen and The Sutra.Jogjakarta.Ar-ruzz
Media.2000



[3] Huston
Smith.Agama-agama Manusia.jakarta.Yayasan
Obor Indonesia.2001.hal,156


[4] Joesoef Sou’yb.Agama-agama Besar di Dunia.Jakarta.Pt Al
Husna ZIkra.1996.hal,112
 

[5] Huston
Smith.Agama-agama Manusia.jakarta.Yayasan
Obor Indonesia.2001.hal,165

[6] Pendekatan secara
rohani
»»  READMORE...

PERADABAN AGAMA BUDDHA DI INDIA DAN DI TIONGKOK (CINA )


Sejarah perkembangan agama Buddha di dunia ini merupakan hal yang sangat penting bagi setiap manusia. Karena minat setiap manusia kurang mengenai sejarah dalam keingin-tahuan tentang perkembangan agama Buddha di dunia. Agama Buddha yang secara historis dan filosofis telah menjadi bagian dari peradaban dunia yang nilai-nilai filsafati, budaya, politis dan yang berkaitan dengan perkembangan dunia secara lokal maupun global telah mendarah daging menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perubahan dan perkembangan suatu bangsa, khususnya di Asia. Sejarah perkembangan agama Buddha dianggap dimulai di daerah hulu Sungai Indus sekitar 33.000 tahun yang lalu, tepatnya di Mahenjo Daro dan Harappa. Pada mulanya penduduknya tidak seperti sekarang tetapi memiliki perawakan yang kecil, berkulit hitam, dan berambut keriting yang lebih dikenal sebagai bangsa Dravida. Setelah masuknya bangsa Arya yang membawa serta kebudayaannya, membuat peradaban bangsa Dravida terdesak ke India bagian selatan. Kedatangan bangsa Arya inilah yang menimbulkan adanya system kasta di dalam struktur masyarakat India.

1. Tujuan
Pembuatan makalah yang bertema “Sejarah Perkembangan Agama buddha Dunia
1. Masyarakat dapat memahami sejarah Agama Buddha Di Dunia
2. Agar mahasiswa dapat mengenal sejarah perkembangan Agama Buddha di dunia
3. Menambah wawasan para pembaca.

1. Rumusan Masalah
1. Sejarah Peradaban India
2. Agama Buddha di Cina



BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Peradaban India
Sejarah peradaban India dianggap dimulai di daerah hulu Sungai Indus sekitar 33.000 tahun yang lalu, tepatnya di Mahenjo Daro dan Harappa. Pada mulanya penduduk tidak seperti sekarang tetapi memiliki perawakan yang kecil, berkulit hitam, dan berambut keriting yang lebih dikenal sebagai bangsa Dravida. Setelah masuknya bangsa Arya yang membawa serta kebudayaannya membuat peradaban bangsa Dravida terdesak ke bagian selatan. Dalam hal ini bangsa Arya menjadi bertambah pesat. Agama Budha tumbuh di India tepatnya bagian Timur Laut. Agama Budha muncul sebagai reaksi terhadap domonisi golongan Brahmana atas ajaran dan ritual keagamaan dalam masyarakat India. Selain itu adanya larangan bagi orang awam untuk mempelajari kitab suci. Bahkan sebelumnya kaum ksatria dan raja harus tunduk kepada Brahmana. Sidharta memandang bahwa sistem kasta dapat memecah belah masyarakat bahkan sistem kasta dianggap membedakan derajat dan martabat manusia berdasarkan kelahiran. Oleh karena itu, Sidharta berusaha mencari jalan lain untuk mencapai moksa yang kemudian berhasil ia peroleh di Bodhgaya (tempat ia memperoleh penerangan agung). Pahamnya disebut agama Budha. Menurut agama Budha kesempurnaan (Nirwana) dapat dicapai setiap orang tanpa harus melalui bantuan pendeta/ kaum Brahmana. Setiap orang mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk mencapai kesempurnaan tersebut asalkan ia mampu mengendalikan dirinya sehingga terbebas dari samsara. Sidharta Gautama dikenal sebagai Budha atau seseorang yang telah mendapat pencerahan. Sidharta artinya orang yang mencapai tujuan. Sidharta disebut juga Budha Gautama yang berarti orang yang menerima bodhi.


1) buddhisme awal.
Sejarah perkembangan agama Buddha tidak lepas dari bantuan raja-raja yang mendukung agama Buddha, di antaranya adalah :
a. Ajatasatu
Raja dari kerajaan Magadha yang memberi sokongan dana pada saat diadakannya sangha samaya pertama di goa Satapani, Rajagaha. Dalam sangha samaya ini untuk pertama kalinya ajaran Buddha diulang dan dikumpulkan setelah parinibbananya Buddha Gotama.
b. Ashoka wardhana
Asoka pada awalnya beragama Hindu dan memiliki perangai yang menakutkan dan kejam. Jika ada kerajaan lain yang tidak mau tunduk kepada Asoka maka kerajaan tersebut akan diserang dan dijadikan daerah jajahan. Namun setelah mengenal ajaran Buddha asoka mulai berubah perangainya. Asoka ikut menyebarkan agama Buddha ke luar India dengan mengirimkan banyak dharmaduta-dharmaduta ke tempat yang berlainan serta mendirikan banyak prasasti yang berisi tentang ajaran-ajaran agama Buddha. Asoka juga mengirimkan putra-putrinya yaitu bhikkhu Mahinda dan bhikkhuni Sanghamitta ke Ceylon untuk menyebarkan agama Buddha di sana. Sanghayana ke-3 diadakan di pataliputta waktu pemerintahan asoka, dikarenakan adanya perselisihan diantara sekte terhadap pemahaman akan kitab suci tipitaka.

1. Agama Buddha di Cina
Buddhisme atau 汉 传 (fójiào) pertama kali dibawa ke Cina dari India oleh para misionaris dan pedagang di sepanjang Jalan Sutra yang menghubungkan Cina dengan Eropa pada akhir Dinasti Han (202 SM - 220 M).
Pada saat itu, Buddhisme India sudah lebih dari 500 tahun, tetapi iman tidak mulai berkembang di China sampai penurunan dari Dinasti Han dan mengakhiri keyakinan ketat Konfusianisme.
Sebelum agama Buddha masuk di Cina, masyarakat Cina sudah memiliki kepercayaan sendiri, yakni Kong Hu Chu yang diajarkan oleh Confusius, dan Tao yang diajarkan oleh Lao Tzu. Confusius mengajarkan tentang “jen” sebagai azas kesatuan, sedangkan Lao Tzu mengajarkan tentang “Tao Te Ching”. Agama Buddha mulai berkembang di Cina sekitar abd ke-2 s.M melalui Asia Tengah serta mulai berpengaruh pada masa pemerintahan kaisar Ming (58-75 M).
Dalam filsafat Buddha . Ada orang-orang yang mengikuti Buddhisme Theravada tradisional, yang melibatkan meditasi yang ketat dan membaca lebih dekat dari ajaran asli Sang Buddha. Buddhisme Theravada menonjol di Sri Lanka dan sebagian besar Asia Tenggara.
Agama Buddha yang memegang di Cina adalah Mahayana Buddhisme, yang mencakup berbagai bentuk seperti Buddhisme Zen, Pure Tanah Buddhisme dan Buddhisme Tibet - juga dikenal sebagai Lamaism.
Mahayana Buddhis percaya di banding yang lebih luas dengan ajaran Buddha dibandingkan dengan pertanyaan filosofis yang lebih abstrak diajukan dalam Buddhisme Theravada. Buddha Mahayana juga menerima Buddha kontemporer seperti Amitabha, Buddha Theravada yang tidak.
Buddhisme mampu untuk secara langsung menjawab konsep penderitaan manusia - yang memiliki daya tarik yang luas untuk orang Cina yang berurusan dengan kekacauan dan perpecahan negara berperang bersaing untuk kontrol setelah jatuhnya Han.
Banyak etnis minoritas di China juga mengadopsi ajaran Buddha. (Lihat grafik)
Persaingan dengan Taoisme
Ketika pertama kali diperkenalkan, Buddhisme menghadapi kompetisi dari pengikut . Sementara Taoisme (juga disebut Taoisme) sama tuanya dengan Buddhisme, Taoisme adalah adat untuk Cina.
Taois tidak memandang hidup sebagai penderitaan. Mereka percaya dalam masyarakat dipesan dan moralitas ketat, tetapi mereka juga memegang keyakinan mistis yang kuat seperti transformasi utama, di mana jiwa hidup setelah kematian dan perjalanan ke dunia yang abadi.
Karena dua keyakinan sangat kompetitif, banyak guru dari kedua sisi dipinjam dari yang lain. Hari ini banyak orang Cina percaya pada unsur-unsur dari kedua sekolah pemikiran.
Buddhisme sebagai Agama Negara:
Popularitas Buddhisme, menyebabkan konversi cepat untuk Buddhisme kemudian oleh penguasa Cina. Sui dan Dinasti Tang berikutnya semua diadopsi Buddha sebagai agama mereka.
Agama ini juga digunakan oleh penguasa asing dari Cina, seperti Dinasti Yuan dan Manchu, untuk menghubungkan dengan Cina dan membenarkan kekuasaan mereka. Para Machus diupayakan untuk menarik paralel antara agama Buddha. agama asing, dan pemerintahan mereka sendiri sebagai pemimpin asing.
Kontemporer Buddhisme:
Meskipun pergeseran China untuk ateisme setelah Komunis menguasai Cina pada tahun 1949, Buddha terus tumbuh di Cina, terutama setelah reformasi ekonomi pada tahun 1980an.
Saat ini ada diperkirakan pengikut agama Buddha di Cina dan lebih dari 20.000 kuil Buddha. Ini adalah agama terbesar di Cina.
Aliran-aliran agama Buddha yang berkembang di Cina secara garis besar ada dua paham, yaitu : 1. aliran paham atta, 2. aliran paham anatta.
1. 1. Aliran Theravada
Aliran Theravada pada mulanya terbagi atas tiga aliran, antara lain : Cheng-shih (Sautrantika), Chu-she (Vaibhashika), Lu. Ketiga aliran ini tidak berumur lama karena kalah dari aliran-aliran baru dari mazhab Mahayana.

1. 2. Aliran Mahayana
ada beberapa aliran dalam mazhab Mahayana, antara lain : San-lun, We-shih, Tien-tai, Hua-yen, Chan, Ching-tu,Chen-yen. Diantara ketujuh aliran tersebut hanya empat yang paling berpengaruh, yaitu : Tien-tai, Hua-yen, Chan, Ching-tu.

Tokoh-tokoh agama Buddha di Cina.
1. Kumarajiva (Ci-mo-lo-shi)
Kumarajiva berasal dari kashmir. Tinggal di Cina mulai awal abad ke-5 M dan memimpin lembaga yang bertugas menterjemah kitab suci agama Buddha ke dalam bahasa Cina. Terjemahannya meliputi 300 jilid buku. Kumarajiva meninggal pada tahun 413 M.
2. Paramartha (Po-lo-mo-tho)
Paramatha berasal dari Ujjain dan dikirim ke Cina oleh raja Magadha, tahun 548 M tiba di Nanking. Paramatha meniggal dalam usia 71 tahun pada tahun 568 M. Meninggalkan karya terjemahan sebanyak 70 judul kitab agama Buddha.
Jalur utara banyakan dari mazhab Mahayana karena mazhab Hinayana (Theravada) kurang dapat di terima karena hidup dengan empat musim dengan tuntutan vinaya(aturan) yang ketat dan harus meninggalkan kehidupan duniawi berat karena masyarakat akan kehilangan banyak tenaga produktif. Meski demikian awal perkembangannya banyak menemui kesulitan, penyebabnya antara lain anjuran untuk menjadi Bhiksu bertentangan dengan anak laki2 harus bertanggung jawab dan berbakti pada oragn tua dan leluhur. tapi fleksibilitas mazhab Mahayana terhadap tradisi dan budaya tanpa menghilangkan inti ajaran Buddha membuat masyarakat Cina secara luas dapat menerimanya. Sementara itu aliran-aliran baru dari India terus masuk ke Cina. dan berpengaruh besar terhadap Ajaran Buddha Sakyamuni. Kedudukan sentral Buddha Sakyamuni tergantikan dengan Buddha-Buddha lain yang dibabarkan oleh Sakyamuni sebelumnya yaitu : Buddha Amitabha dan Buddha Mahavairocana. Padahal keberadaan Buddha2 tersebut sebenarnya dibabarkan untuk mematahkan pandangan "hanya satu Buddha" Akibat kekeliruan ini, Agama Buddha di Cina bercampur-aduk dengan ajaran di luar Buddha sehingga menemui keruntuhannya. Dengan demikian Agama Buddha berangsur-angsur mengalami sinkretisme dengan filsafat tradisional Cina yaitu Konfucianisme dan Taoisme.




BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Perkembangan agama Buddha tidak bisa lepas dari usaha-usaha Dharmaduta-Dharmaduta yang berjuang keras dalam mengembangkan agama Buddha. Raja Asoka termasuk salah satu raja yang aktif dalam mengembangkan agama Buddha dengan mengirimkan Dharmadutanya ke berbagai penjuru dunia. Dalam perkembangannya agama Buddha menjumpai tidak sedikit halangan termasuk dari berbagai agama bahkan dari aliran-aliran agama Buddha sendiri demi untuk kepentingan mereka pribadi.
Agama Buddha mengalami kemunduran di India yang merupakan tempat lahirnya Agama Buddha, dikarenakan mulai kembalinya pengaruh dari agama Brahma dan terpecahnya agama Buddha menjadi beberapa aliran atau sekte yang saling mempertahankan pendapatnya dan kitab yang digunakannya. Saat ini agama Buddha mulai menggema kembali di dunia, terutama di barat dimana orang-orang barat ingin mencari hal-hal yang bersifat spiritual yang di dunia barat sendiri sulit untuk mendapatkannya. Sehingga mereka mencarinya ke daerah timur (asia) yang sejak dulu terkenal dengan pusat-pusat spiritualnya dan tokoh-tokoh agamanya.
Dalam perkembangan agama buddha didunia sekarang ini sangat prsat sekali dibanding zaman yang dulu terutama dibelahan bumi bagian barat (Amerika dan eropa). Orang-orang dibarat saat ini lebih menyukai spritual dan filsafat orang-orang timur, dimana terjadi kebalikanya oarang timur lebih menyukai hal-hal yeng bersifat modern dan kapitalis yang dimiliki orang barat

DAFTAR PUSTAKA

• Conze, Edward, Sejarah Singkat Agama Buddha, Karaniya, Jakarta, 2010. cet. I
• Memahami buddhayana, bandung. 1995. cet. 50
• Arifin, Menguak misteri ajaran agama-agama besar, PT. Citra mandala pratama,Jakarta.2004.
cet :11
• Tanggok, M. Ikhsan, Agama Buddha. Lembaga penelitian UIN Jakarta, 2009, cet. 1
• Wahyono Mulyadi. 1995. Sejarah perkembangan Agama Buddha. Jakarta: Dirijen Bimas Hindu Buddha
»»  READMORE...

Meditasi dan Jalan Tengah


  1. 1.      Pendahuluan
Kebanyakan masalah yang dihadapi saat ini terjadi akibat pikiran yang tidak terlatih dan tidak berkembang. Telah diketahui bahwa meditasi adalah obat untuk banyak penyakit jasmani dan batin. Pakar medis dan npsikologis besar diseluruh duniamenyatakan bahwa frustasi, kecemasan, kesengsaraan, kegelisahan, ketegangan, dan ketakutan adalah penyebab dari berbagai penyakit, tukak lambung, gastritis, keluhan saraf, dan penyakit jiwa. Bahkan penyakit yang laten akan diperburuk dengan kondisi mental seperti demikian.
Aspek lain yang menonjol dari ajaran  Budha adalah penyerapan jalan Ariya Beruas Delapan sebagai suatu cara hidup yang mulia. Setiap umat Budha didorong untuk membentuk hidupnya sesuai dengan Jalan Arya Beruas Delapan seperti yang diajarkan oleh sang Budha. Ia yang menyesuaikan hidupnya selaras dengan jalan hidup yang mulia ini akan bebas dari kesengsaraan dan bencana, baik dalam masa hiudp sekarang maupun sesudahnya. Ia juga akan dapat mengembangkan pikirannya dengan mengekang kejahatan dan menjalankan kebaikan.

  1. 2.      MEDITASI
Kata meditasi berasal dari bahasa latin, meditatio, artinya hal bertafakur, hal merenungkan, memikirkan, mempertimbangkan, atau latihan atau pelajaran persiapan. Kamus Teologi menjelaskan meditasi adalah doa batin, merenungkan kitab suci, atau tema-tema rohani yang lain, bertujuan untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan dan memperoleh pemahaman atas kehendak Tuhan[1]. Sebagai seuatu bentuk doa bagi pemula, latihan meditasi langkah demi langkah akan membawa orang kepada tingkatan kontemplasi yang lebih tinggi dan sederhana.
Meditasi adalah pendekatan psikologis untuk pengembangan, pelatihan, dan pemurnian pikiran[2]. Dalam hal doa, umat Buddha mempraktikkan meditasi untuk pelatihan mental dan pelatihan spiritual. Tidak seorang pun dapat mencapai Nibbana atau keselamatan tanpa mengembangkan pikiran melalui meditasi. Sejumlah perbuatan baik saja tidak akan cukup membawa seseorang untuk mencapai tujuan akhir tanpa pemurnian mental yang sesuai. Hayalan dan emosi selalu menyesatkan manusiajikia pikiran tidak dilatih dengan benar. Seseorang yang tahu bagaimana caranya bermeditasi akan dapat mengendalikan pikirannya jika tersesatkan oleh indera-indera.
Meditasi juga berarti pengembangan batin[3]. Melalui meditasi, batin dan seluruh kehidupan kita tumbuh secara spiritual, karena kesadaran kita semakin berkembang. Kita semakin sadar akan diri kita, orang lain, dan lingkungan kita, dan akhirnya menyadari realitas itu sendiri. Kesadaran yang meningkat ini membantu kita untuk berurusan dengan situasi kehidupan sehari-hari dengan lebih tenang dan bijak.
Menurut KBBI (2001), meditasi artinya pemusatan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. Meditasi mengandung pengertian yang sama dengan tafakkur, yakni menimbang-nimbang dengan sungguh-sungguh, memikirkan, merenung, atau mengheningkan cipta. Kamus yang sama menerangkan arti bersemadi adalah memusatkan segenap pikiran (dengan meniadakan segala hasrat jasmaniyah).
Dalam agama Buddha kata meditasi memang dipergunakan sebagaisinonim dari semadi (samadhi) dan pengembangan batin (bhavana).  “memusatkan pikiran pada satu objek yang tunggal, inilah yang disebut semadi”[4]. Semadi atau meditasi atau pemusatan pikiran dinamakan juga konsentrasi. Sebagai metode atau cara mengembangkan batin, semadi dinamakan bhavana.
Meditasi dilakukan dengan pikiran. Bagaimanapun posisi tubuh, jika pikiran berlari kesana sini dengan liar dan memikirkan objek kemelekatan, itu bukanlah yang disebut semadi. “Pikiran adalah pemimpin, segala sesuau dibentuk oleh pikiran”. Hasil meditasi berupa keadaan batin yang menunggal, dengan pemusatan pikiran yang kuat memegang objek,  dinamakan jhana (pali) atau dhyana (Skt.). istilah ini dalam bahasa Tionghoa Ch’an atau dalam bahasa Jepang Zen.
Dalam bahasa Tibet, meditasi adalah gom, yang memiliki akar yang sama dengan kata-kata yang artinya membiasakan diri[5]. Meditasi adalah membiasakan diri kita dengan sikap-sikap yang positif, realistis, dan konstruktif. Ia membangun kebiasaan baik dari fikiran.
2.1  Semadi Benar
Semadi benar didefinisikan sebagai pikiran yang baik, tepatnya yaitu kesadaran (citta) dan corak batin (cetasika) yang baik, terpusat dengan mapanpada satu objek. Pikiran yang baik atau suci lebih penting dari pada terpusat, karena meskipun terkonsentrasi, pikiran yang buruk menghasilkan semadi yang salah.
Semadi memiliki karakteristik pikiran yang tidak kacau, atau tidak terganggu, memiliki fungsi mengatasi kekacauan, menyebabkan tercapainya ketenangan. Manifestasinya tidak bergelombang. Sebab yang terdekat yang menimbulkan pemusatan pikiran adalah kebahagiaan. “dengan merasa bahagia, pikirannya menjadi terpusat”.

2.2  Tiga Faktor Semadi
Sebagai salah satu faktor dari jalan mulia berunsur delapan, semadi benar tidak terpisahkan dari daya upaya benar dan perhatian benar, karena itu ketiganya masuk dalam kelompok semadi. Buddha membenarkan petunjuk Bikuni Dhammadinna kepada upasaka Visakha, bahwa pemusatan pikiran membutuhkan syarat adanya daya upaya yang benar berupa Empat ketekunan usaha yang benar, dan ditandai perhatian berupa Empat Landasan Kesadaran. Jelas semadi adalah suatu keadaan yang positif, bukan pasif atau terhipnotis lupa diri[6].
Daya upaya benar yaitu Empat Usaha yang Benar, yang dilaksanakan dengan giat dan penuh semangat:
  1. Usaha mencegah timbulnya pikiran buruk, yang tidak menguntungkan, yang menimbulkan kerinduan dan kesesalan, dengan cara menjaga, mengawasi, dan mengendalikan semua indera.
  2. Usaha melenyapkan pikiran yang diliputi hawa nafsu yang sempat muncul, dengan mencampakkannya, mangakhirinya, mengalihkan pikiran pada sesuatu yang baru.
  3. Usaha membangkitkan atau mengembanglkan faktor penerangan sempurna, melalui ketenangan, kelepasan, pengakhiran, dengan tujuan mencapai kebebasan.
  4. Usaha mempertahankan objek konsentrasi yang telah berhasil dicapai.

Perhatian benar yaitu Empat Landasan Kesadaran, berupa perenungan terhadap:
  1. Badan jasmani
  2. Perasaan
  3. Fikiran
  4. Fenomena dharma
Terus-menerus mengamati dengan rajin, terkendali, sadar, mengatasi dorongan keinginan dan kesalahan yang timbul dalam dirinya. Pengamatan itu dilakukan secara internal, eksternal, maupun internal dan eksternal secara bersama-sama. Dalam Mahasattipatthana-sutta Buddha menyatakan, “para Biku, satu-satunya jalan yang membuat orang menjadi suci, mengatasi kesedihan dan ratapan, mengakhiri hal-hal yang menyakitkan dan penderitaan, metode yang benar, untuk merealisasi Nirwana, itulah Empat Landasan Kesadaran”.


2.3  Tiga Kelompok Satu Jalan
“Para Biku, suatu yang tidak mungkin, menguasai semadi tanpa menguasai sila. Tidak mungkin pula menguasai kebijaksanaan tanpa menguasai semadi”[7]. Semua faktor dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang dikelompokkan sebagai sila, semadi, dan kebijaksanaan, membentuk satu jalan saja. Ketiga kelompok saling bergantung, bagaikan sebuah pot berkaki tiga, yang terbalik jika langsung patah salah satu kakinya.
Ada tiga macam latihan, yaitu latihan didalam sila yang tinggi (adhisila- sikkha), kesadaran yang tinggi (adhicitta-sikkha) dan kebijaksanaan yang tinggi (adhipanna-sikkha). Seorang praktisi hidup bermoral dan terkendali menurut winayana, sempurna tingkah laku dan pergaulannya, takut melakukan pelanggaran walau kecil sekalipun, melatih dirinya dalam peraturan-peraturan berdasarkan sila. Melatih kesadaran dengan membebaskan diri dari hal-hal yang berhubungan dengan hawa nafsu, bebas dari karma-karma yang tidak baik, masuk kedalam jhana tingkat demi tingkat. Melatih kebijaksanaan dengan memahami kebenaran apa adanya, mengenai adanya duka, asal mula duka, lenyapnya duka dan jalan menuju lenyapnya duka.
Latihan kesadaran yang tinggi adalah praktik untuk mencapai ketenangan batin, dan latihan kebijaksanaan yang tinggi adalah praktik untuk mencapai pandangan terang. Kedua macam praktik ini dinamakan bhavana atau kammatthana (Thana dasar, fondasi pengembangan bain).

2.4  Tujuan dan Manfaat Semadi
Menyatukan diri dengan makhluk ghaib atau keadaan tak sadarkan diri, kehilangan daya pikir, kehilangan daya pikir sendiri, bukanlah meditasi yang dimaksud dalam agama buddha. Meditasi Buddhis juga tidak ada hubungannya dengan mistik. Mistik menjauhkan diri kita dari kenyataan, meditasi mendekatkan kita pada kenyataan. Dengan meditasi kita dapat melihat secara langsung khayalan dan halusinasi, sehingga menyadarkan kita akan berbagai bentuk kebodohan dan pandangan yang kelliru.

  • Tujuan
Berdasarkan metode yang diajarkan oleh Buddha, tujuan meditasi adalah mencapai ketenangan batin (samatha) dan pandangan terang (vipassana), dengan tujuan akhir satu-satunya untuk memperoleh keadaan batin yang tidak tergoyahkan (akuppa ceto vimutti), jaminan tertinggi untuk terbebas dari semua belenggu batin dengan mengikis habis semua kotoran batin. “orang bijaksana tekun bersemadi, selalu berusaha keras, akan mencapai nirvana, kebebasan mutlak, kebahagiaan tiada tara”[8].
Itulah tujuan akhirmeditasi, yakni Nirwana yang tercapai dalam kehidupan sekarang ini juga. Dan Nirvana tidak akan tercapai tanpa semadi. Sebelum tujuan akhir ini tercapai, sebelum meninggal dunia, praktisi yang memperoleh kemajuan dalam semadi akan terlahir di alam-alam yang luhur.

  • Manfaat
Hasil latihan meditasi berupa kemajuan spiritual akan membuat hidup praktisi menjadi lebih baik. Meditasi menghasilkan kesabaran, ketenangan dan kedamaian.  Pengaruhnya terhadap keseimbangan batin keharmonian fisik, mental dan spiritual membentk praktisi untuk berpikir jernih dan menumbuhkan kecerdasan.
Meditasi berpengaruh terhadap fungsi jasmani yang bermanfaat bagi kesehatan, seperti peningkatan kebugaran dan daya tahan tubuh, hingga penyembuhan sejumlah penyakit[9].

2.5  Kemampuan Supernatural
Sejumlah Sutta mengungkapkan bahwa pemusatan pikiran menghasilkan kemampuan supernatural. Misal, Brahmajalla-sutta menguraikan adanya petapa dan Brahmana yang dapat mengingat riwayat hidupnya dan alam-alam kehidupannya yang lampau. Mahalli-sutta menjelaskan tentang Sunakkhata mendapatkan mata batin, sehingga dapat melihat berbagai bentuk yang menyenangkan, yang ada di alam dewa. Sesuai dengan pemusatan pemikiran yang dikembangkan, seseorang juga dapat memperoleh telinga batin.

2.6  Kesesuaian Jenis Watak
Pokok-pokok objek meditasidikembangkan sesuai dengan penggolongan watak manusia. Yaitu:
  • Watak yang penuh nafsu (raga-carita)
  • Watak yang penuh kebencian (dosa-carita)
  • Watak yang dungu (moha-carita)
  • Watak yang mudah percaya (saddha-carita)
  • Watak yang cerdas (buddhi-carita)
  • Watak yang spekulatif / melamun (vitakka-carita)
Penilaian watak berdasarkan sifat seseorang yang dominan, dengan memperhatikan antara lain postur, cara kerja, cara makan dan makanannya, caa melihat sesuatu, keadaan dan kelakuan yahng ditunjukkannya.[10]
2.7  Pencapaian Konsentrasi
  1. a.      Tingkatan konsentrasi
Ada tiga tingkatan konsentrasi, yaitu[11]:
  • Konsentrasi sesaat (khanika-samadhi)
  • Konsentrasi permulaan (upacara-samadhi)
  • Konsentrasi penuh (appana-samadhi)
Ketiga tingkatan konsentrasi dianggap sebagai wujud dari kesucian pikiran, karena dikenali dari tiadanya lima rintangan batin, apakah untuk sementara waktu saja atau untuk waktu yang lebih lama sebagaimana yang diinginkan.

  1. b.      Gambaran Batin
Gambaran batin menunjukakan tigkat perkembangan perenungan pada suatu objek, yang dibedakan atas:
  • Gambaran batin selama pembacaan
  • Gambaran batin tercapai
  • Gambaran batin terkendali

  1. c.       Faktor-Faktor Jhana
Jhana merupakan keadaan batin diluar aktivitas panca indera. Aktivitas panca indera berhenti, tidak muncul kesan-kesan yang datang dari semua indera itu, namun kesadaran tetap terpelihara, dan batin tetap aktif.
Dalam meditasi pandangan terang tidak diperlukan jhana. Orang yang melakukan vipassana-bhavana harus memulai dari konsentrasi permulaan sampai ia memiliki kebijaksanaan yang sempurna. Dengan itu ia dapat mengembangkan gambaran batin, dan mengakhiri proses tumimbal-lahir.

2.8  Rintangan Konsentrasi
  1. a.      Lima rintangan Batin
Terdapat liima rintangan berupa kotoran batin, yang terdiri dari:
  • Nafsu keinginan akan objek indra yang menyenangkan
  • Niat atau kemauan jahat, dendam
  • Kemalasan dan kelesuuan
  • Kegelisahan dan kelesuan
  • Keraguan

  1. b.      Rintangan Pandangan Terang
Yang menghambat perkembangan pandangan terang terdiri dari:
  • Sinar-sinar gemerlapan, kegiuran, ketenagan, kebahagiaan, keyakinan yang membawa gairah, usaha, ingatan yang tajam, pengetahuan langsung, keseiimbangan batin, perasaan puas terhadap objek-objek.

2.9  Praktik Meditasi
  1. a.      Persyaratan Internal Meditator
  • Memiliki sila
  • Menghilangkan berbagai rintangan fisik, yaitu kehawatiran
  • Mendekati guru dengan cara yang benar, hormat dan percaya terhadap guru, memberitahukan apa yang kita inginkan darinya
  • Mempelajari sifat semadi yang baik
  • Memilih tempat atau lingkungan untuk latihan meditasi, sesuai dengan watak praktisi
  • Mempunyai objek semadi yang sesuai dengan watak masing-masing yang dominan
  • Melenyapkan rintangan-rintangan kecil
  • Menimbulkan, mempertahannkan dan mengembangkan gambaran batin

  1. b.      Persyaratan Eksternal Meditator
Terdapat tujuh hal yang dapat membantu seorang meditator agar ia berhasil melaksanakan meditasinya, yaitu:
  • Tempat tinggal yang pantas
  • Wilayah yang pantas
  • Pembicaraan yang pantas
  • Makanan yang pantas
  • Orang-orang yang pantas
  • Iklim yang pantas
  • Posisi tubuh yang pantas

  1. c.       Persiapan Meditasi
Latihan meditasi dimulai dengan pengertian yang benar, pikiran yang bersih, i’tikad yang baik dan tekad yang kuat. Setelah memilih subjek meditasi, praktisi mengundurkan diri ketempat yang tenang dan nyaman. Lingkungan yang sunyi tidak memberi arti tanpa kesunyian dalam diri praktisi, dan tempat yang ramai bisa jadi tidak emnjadi masalah bagi mereka yang tenang pikirannya.
Pemula sebaiknya tetap bermeditasi ditempat yang sama, tidak berpindah-pindah tempat. Hingga pada waktu yang sama, biasanya pagi atau malam hari, ketika pikiran segar, aktif, dan keadaan fisik tidak lelah, tidak juga lapar. Lama meditasi kira-kira sepanjang waktu yang dibuthkan oleh sebatang dupa hingga terbakar habis, paling tidak dua puluh hingga tiga puluh menit.

  1. d.      Posisi Tubuh
Meditasi duduk seperti pada praktik za-zen (za duduk bersila,  zen meditasi), bisa di dahului dengan beberapa gerakan latihan pendahuluan.
Praktisi yang memilih posisi berdiri, menempatkan kakinya sedikit renggang. Kedua tangan didepan tubuh, tangan kanan memegang tangan kiri. Keseimbangan tubuh harus dijaga supaya batin tenang.
Meditasi cara berjalan disebut cankamana. Pemula berjalan perlahan-lahan agar dapat mengembangkan perhatian kesadaran (satti). Terdapat beberapa cara berjalan yaitu:
  • Berjalan dengan menghitung langkah kaki.
  • Berjalan dengan menyadari langkah maju, mundur, kekiri dan kekanan. Menyadari gerakan kaki kanan sewaktu kaki kanan melangkah, kaki kiri sewaktu kaki kiri melangkah. Gerakan setiap tangan pada waktu berjalan juga harus disadari.
  • Berjalan dengan menggunakan objek meditasi gambaran tubuh, seolah-olah melihat tubuh sendiri, dan mengamati seluruh kegiatan atau gerakan tubuh.

Posisi berbaring dilakukan dengan tubuh rebah kearah kanan, dengan kaki kiri diatas kaki kanan, seperti posisi tubuh Buddha Gotama disaat pari nirwana. Posisi arah sebaliknya juga dimungkinkan, yang penting bagaimana pikiran dapat diarahkan.

  1. 3.      JALAN ARIYA BERUAS DELAPAN (Jalan Tengah)
Jalan Arya Beruas Delapan (Kebenaran ARYA Keempat) adalah suatu rumus yang sistematik dan lengkap untuk lepas dari ketidakpuasan dan mencapai kebahagiaan sejati. Jalan ini berisi segala sesuatu yang diperlukan untuk kehidupan yang mulia, kejernihan pemahaman, dan pencapaian kebijaksanaan, yang menghindari ekstrem pemanjaan diri maupun penyaksian diri. Kedelapan faktor Jalan AriyA Beruas Delapan dapat dibagi kedalam tiga aspek diantaranya sebagai berikut:
3.1 Disiplin Moral (Sila):
  1. Perkataan Benar
  2. Perbuatan Benar
  3. Penghidupan Benar

3.2 Pengembangan Bathin (Samhadi):
  1. Usaha Benar
  2. Perhatian Benar
  3. Konsentrasi Benar
3.3 Kebijaksanaan (Panna):
  1. Pandangan Benar
  2. Kehendak Benar
Penjelasan
  1.                                 i.            Perkataan Benar
Kita seharusnya berusah memperhatikan dan menghargai sifat-sifat baik dan pencapaian orang lain dan alih-alih melepaskan kemarahan atau rasa frustasi kita kepada mereka. Kita dapat saling memberikan dukungan moral, penghiburan kala duka, dan berbagi Dhamma. Perkataan adalah alat ampuh untuk mempengaruhi orang lain. Ketika ucapan digunakan dengan bijaksana, banyak yang akan mendapat manfaat. Perkataan Benar adalah menghindari[12]:
  1. Berbohong
  2. Memfitnah
  3. Berkata kasar
  4. Obrolan kosong
Kita seyogyanya:
- Memberikan pujian yang tepat.
- Mengkritik hanya yang bersifat membangun.
- Menyebarkan kebenaran.
- Menyampaikan ucapan yang menyembuhkan.
- Bisa tetap diam bila diperlukan.

  1.                               ii.            Perbuatan Benar[13]
                        Latihan Perbuatan Benar meliputi menghargai kehidupan, kepemilikan, dan hubungan pribadi pihak lain. Latihan ini membantu mengembangkan watak kendali diri dan berperhatian terhadap hak-hak makhluk lain. Perbuatan Benar adalah menghindari:
-          Membunuh.
-          Mengambil yang tidak diberikan.
-          Melakukan perbuatan asusila.
                        Perbuatan Benar termasuk juga tindakan jasmani yang membawa manfaat bagi pihak lain. Ini termasuk menolong dan menyelamatkan makhluk lain dari bahaya atau penderitaan.

  1.                             iii.            Penghidupan Benar[14]
                        Penghidupan Benar berarti berpencaharian dengan tidak merugikan makhluk lain. Dalam memilih pekerjaan, kita seharusnya menghargai kehidupan dan kesejahteraan semua makhluk.
                        Ada lima jenis mata pencaharian yang Buddha anggap sebagai cara-cara yang tidak menghargai kehidupan. Kelimanya seharusnya dihindari karena menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan pihak lain, at  upun menciptakan perpecahan dalam masyarakat. Mata pencaharian yang seharusnya dihindari adalah:
-          Berdagang senjata.
-          Berdagang hewan untuk disembelih.
-          Berdagang budak dan pelacuran.
-          Berdagang minuman keras.
-          Berdagang racun.

  1.                             iv.            Usaha Benar
                        Usaha diperlukan untuk menanam kebijakan atau mengembangkan batin kita, karena kita sering lalai atau tergiur untuk mengambil jalan keluar yang gampang. Buddha mengajarkan bahwa pencapyan kebahagiaan sejati dan pencerahan tergantung pada usaha kita sendiri.
                        Usaha adalah akar dari segala pencapaian. Jadi, tak peduli betapa besar pencapaian Buddha, atau betapa hebatnya ajaran Buddha, kita harus menjalankan ajaran tersebut secara nyata untuk mencapai hasil yang diharapkan. Ada empat jenis Usaha Benar yang perlu dijalankan:[15]
  1. Usaha untuk mencegah munculnya pikiran buruk (ketamakan, kebencian, dan kegelapan batin).
  2. Usaha untuk melepaskan pikiran buruk yang telah muncul.
  3. Usaha untuk mengembangkan pikiran baik (kedermawanan, Cinta Kasih, dan Kebilaksanaan).
  4. Uasaha untuk memelihara pikiran baik yang telah muncul (sekalipun ketika tidak diperhatikan oleh orang lain).

  1.                               v.            Perhatian Benar
                        Perhatian murni (sati) adalah paktor penting dalam kehidupan lain sehari-hari kita. Ini adalah faktor mental yang membuat kita mampu mengingat serta menjaga kesadaran dan perhataian kita pada apa-apa yang bermanfaat dalam hal pikiran, perkataan, dan perbuatan. Sebagai contoh, ketika kita bangun pada pagi hari, kita bisa bertekad, “Hari ini sebisa mungkin aku akan berusaha untuk tidak merugikan makhluk lain dan akan membantu mereka.” Perhatian murni akan membantu mempertahankan pemikiran tersebut  dalam pikiran kita sepanjang hari, dan menyadarkan kita apakah perbuatan sehari-hari kita sesuai dengan niat tadi. Pikiran harus selalu sadar akan apa yang terjadi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
                        Melatih Perhatian Benar diperlukan untuk mencapai Kebijaksanaan dan Pencerahan. Pikiran harus terkendalikan dan terlindungi dari kekacauan. Keserakahan dan kemarahan harus dihindari dengan sadar. Perhatian diberikan pada pikiran karena melalui pikiran segala sesuatu dicerna, ditafsir, dan dipahami. Untuk mencapai Kebahagiaan Sejati, pikiran yang tidak disiplin pertama-tama harus dikendalikan. Menaklukan pikiran berarti menaklukan dunia.

  1.                             vi.            Konsentrasi Benar
                        Meditasi adalah proses bertahap untuk melatih pikiran agar agar terpusat pada suatu objek tunggal, dan tak tergoyahkan pada objek tersebut. Objek konsentrasi bisa berupa hal materi seperti bunga atau non materi seperti cinta kasih. Bahkan jika kita berlatih Meditasi selama lima belas menit setiap hari, kita akan mulai merasakan manfa’atnya. Latihan meditasi yang teratur akan membantu kita untuk mengembangkan pikiran yang tenang dan terousat, serta menyiapkan kita untuk pada akhirnya mencapai kebijaksanaa dan pencerahan.[16]

  1.                           vii.            Pandangan Benar[17]
                        Pandangan Benar atau Pengertian Benar adalah melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, bukan-Nya sebagaimana tampaknya. Untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, kita harus mengamati diri kita sendiri dan sekitar dengan cermat, menyelidiki arti sebenarnya dari yang diamanati. Pandangan Benar adalah pengetahuan sejati akan segala sesuatu yang direalisasikan oleh diri sendiri melalui praktik.
                        Sikap menyalidiki akan menalaah penting untuk mencapai Pandangan Benar. Buddha mengajarkan kepada kita untuk tidak percaya begitu saja pada desas-desus, tradisi, atau kewenangan sebagai kebenaran. Melainkan untuk menimbang kebenaran dengan pengalaman kita sendiri yang objektif dan adil. Buddha mengajarkan, seperti halnya orang bijaksana yang tidak menerima begitu saja bahwa setiap yang berkilau keemasan adalah emas., tetapi mengujinya terlebih dahulu. Dengan demikian, kita mestinya tidak menerima begitu saja apa yang didengar tanoa mengujinya dengan pengalaman kita sendiri.
                        Meskipun demikian, dalam mencari kebenaran, kita bisa saja menilik ajaran Buddha sebagai acuan bantu. Ini adalah langka pertama menuju pengembangan Pandangan Benar. Kita segiyanya mendengar dan mempelajari ajaran Buddha dan penjelasan guru-guru yang berkualitas. Akan tetapi, mendebgarkan ajaran Buddha saja tidaklah cukup, kita juga harus memperhatikan dan sungtguh-sungguh mencoba untuk menjalaninya,
                        Buddha berkata bahwa mwngembangkan Pandangan Benar adalah seperti orang buta yang matanya tercelikkan, seluruh sikapnya terhadap hal-hal yang semula disukai atau ttidak disukai akan berubah karena telah mampu melihat semuanya dengan tepat.

  1.                         viii.            Kehendak Benar[18]
                        Kehendak atau pikiran akan mempengaruhi perkataan dan perbuatan kita. Jika kita berkata atau bertindak atau berdasarkan pikiran yang tamak atau penuh amanah. Maka kita akn berkata atau bertindak dengan salah, akibatnya kita akan menderita. Sangatlah penting untuk memurnikan pikiran, jika kita betul-betul berminat memperbaiki tingkah laku kita. Kehendak Benar mengetahui bagaimana menggunakan pengetahuan yang kita miliki untuk kebaikan diri kita sendiri dan semua makhluk.
                        Kehendak Benar berarti menghindari nafsu keinginan dan niat buruk, dan membangkitkian pikiran tentang melepaskan kemelekatan. Mengembangkan Cinta Kasih dan Walah Asih. Nafsu keinginan harus dihindari karena tidak akan pernah terpuaskan dan mengarahkan pada tindakan yang keliru. Pikiran yang tidak melekat akan menyingkirkan nafsu keinginan, sementara Cinta Kasih dan Walah Asih akan mengenyahkan niat buruk.


DAFTAR PUSTAKA
v  Mukti, Krishnanda wijaya. Wacana Buddha-Dharma. Yayasan Dharma Pembangunan.  cet.III Jakarta: 2006

v  Dhammananda, Sri. Keyakinan Umat Buddha. Yayasan Penerbit Karania. Cet.V Jakarta:  2007

Jadilah Pelita Ajaran Universal Buddha. Yayasan Penerbit Karania dan Ehipassiko Foundation. Jakarta : 2005




[1] Krishnanda Wijaya-Mukti, Wacana Buddha Darmha, Yayasan Dharma Pembangunan, Jakarta. Hal 212

[2] Sri Dhammananda, Keyakinan Umat Buddha, Yayasan Penerbit Karaniya, hal 295

[3] Terjemahan be a Lamp Upon Yourself, dsb. Jadilah Pelita Ajaran Universal Buddha. Hal 227

[4] Krishnanda Wijaya-Mukti, Wacana Buddha Darmha, Yayasan Dharma Pembangunan, Jakarta. Hal 213

[5] Ibid, Hal 213

[6] Ibid. Hal 216

[7] Ibid. Hal 217

[8] Ibid., hal. 218

[9] Ibid., hal. 219

[10] Ibid., hlm 225

[11] Ibid., hlm 227

[12] Terjemahan be a Lamp Upon Yourself, dsb. Jadilah Pelita Ajaran Universal Buddha. Hal 35

[13] Ibid.,hlm36.

[14] Ibid.,Ihlm 37.

[15] Ibid.,hlm 38

[16] Ibid.,hlm 41

[17] Ibid.,hlm 42

[18][18][18] Ibid.,hlm 44-45.
»»  READMORE...